Ciri Dajjal dalam Islam dijelaskan cukup rinci dalam sejumlah hadis Nabi Muhammad SAW. Sosok ini digambarkan sebagai salah satu ujian terbesar menjelang hari kiamat, memiliki ciri fisik tertentu, mengaku memiliki kedudukan ketuhanan, membawa berbagai tipu daya, serta membuat banyak manusia kesulitan membedakan kebenaran dan kebohongan. Penjelasan tentang Dajjal terutama bersumber dari hadis, sebab nama Dajjal tidak disebut secara eksplisit di dalam Al Quran.
Dalam Sahih Bukhari, Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa setiap nabi telah memperingatkan umatnya mengenai pendusta bermata satu tersebut. Rasulullah juga menegaskan bahwa Dajjal mempunyai cacat pada matanya, sedangkan Allah tidak mempunyai sifat seperti itu. Hadis yang sama menyebut adanya tulisan yang menunjukkan kekafiran di antara kedua matanya.
Dalam pandangan Ahlussunnah wal Jamaah yang dijelaskan NU Online, kabar mengenai kemunculan Dajjal termasuk perkara gaib yang diterima berdasarkan keterangan Nabi Muhammad SAW. Imam An Nawawi juga menjelaskan bahwa hadis tentang Dajjal merupakan bagian dari kabar yang harus dipahami berdasarkan riwayat yang sahih.
Dajjal Digambarkan sebagai Sosok Manusia
Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah apakah Dajjal merupakan manusia, simbol kejahatan atau suatu sistem tertentu. Dalam pandangan yang umum ditemukan pada literatur hadis dan kalangan Ahlussunnah wal Jamaah, Dajjal dipahami sebagai individu yang benar benar akan muncul.
NU Online menjelaskan bahwa para sahabat dan banyak ulama otoritatif memahami Dajjal sebagai seseorang, bukan sekadar istilah untuk menggambarkan kejahatan secara umum. Hadis hadis mengenai dirinya memuat ciri tubuh, perjalanan, lama keberadaan serta interaksinya dengan manusia secara cukup rinci.
Walaupun demikian, terdapat pula pendekatan berbeda dalam pemikiran Islam Indonesia. Muhammadiyah pada 2025 menjelaskan adanya pandangan yang memahami Dajjal secara fisik dan pandangan lain yang mengakomodasi pemahaman Dajjal sebagai gambaran suatu keadaan, sarana atau kekuatan yang merusak kebenaran.
Artikel ini menggunakan gambaran fisik berdasarkan hadis karena pembahasan yang dituju adalah ciri Dajjal sebagaimana dijelaskan dalam riwayat Nabi Muhammad SAW.
Mata Dajjal Menjadi Ciri Fisik yang Paling Jelas
Ciri Dajjal yang paling banyak disebut dalam hadis adalah keadaan matanya. Nabi Muhammad SAW berulang kali menyampaikan bahwa Dajjal mempunyai cacat pada salah satu mata.
Sahih Bukhari meriwayatkan peringatan Rasulullah bahwa Dajjal adalah pendusta bermata satu. Penegasan tentang mata tersebut diikuti pernyataan bahwa Allah tidak demikian. Keterangan ini menjadi sangat penting karena Dajjal nantinya dikisahkan membuat pengakuan yang menyesatkan manusia mengenai dirinya.
Dalam beberapa riwayat terdapat variasi penjelasan tentang mata kanan dan kiri. NU Online ketika membahas riwayat mengenai Dajjal menggambarkan salah satu matanya tidak dapat melihat dengan normal, sedangkan bagian lainnya juga mempunyai kondisi yang tidak sempurna.
Hadis memakai perumpamaan tertentu untuk menggambarkan bentuk mata Dajjal sehingga para sahabat memperoleh gambaran yang mudah diingat.
Mengapa Rasulullah Menekankan Ciri Mata?
Penekanan terhadap kondisi mata Dajjal memiliki fungsi yang sangat jelas. Dajjal akan melakukan berbagai hal yang membuat manusia terpesona dan kemudian membuat pengakuan yang bertentangan dengan tauhid.
Rasulullah karena itu memberikan ciri yang sederhana tetapi mudah dikenali. Ketika Dajjal mengaku mempunyai kedudukan sebagai Tuhan, seorang Muslim telah dibekali dengan penegasan bahwa Allah Mahasempurna dan tidak memiliki kekurangan fisik sebagaimana makhluk.
NU Online mencatat riwayat yang menjelaskan Dajjal pada akhirnya mengaku sebagai Tuhan, sedangkan Nabi Muhammad SAW mengingatkan bahwa manusia tidak melihat Allah dalam kehidupan dunia sebelum meninggal.
Menurut penulis, ciri fisik Dajjal bukan diberikan untuk mendorong umat Islam menebak nebak siapa Dajjal dari wajah seseorang. Keterangan tersebut justru menjadi bekal agar orang beriman mengenal sosok itu apabila peristiwa yang diterangkan Nabi benar benar terjadi.
Ada Tulisan Kafir di Antara Kedua Mata Dajjal
Selain kondisi matanya, salah satu tanda Dajjal yang paling terkenal adalah tulisan yang menunjukkan kekafiran di antara kedua matanya.
Sahih Bukhari meriwayatkan bahwa kata yang menunjukkan kekafiran tertulis di antara kedua mata Dajjal. Riwayat lain juga menjelaskan bahwa orang beriman dapat mengenali tulisan tersebut.
NU Online menjelaskan riwayat tersebut dengan menyebut tulisan kafir berada pada bagian kening atau antara mata Dajjal dan dapat dikenali oleh orang yang beriman.
Keterangan itu menjadi salah satu ciri pembeda yang sangat kuat. Namun, riwayat tersebut tidak seharusnya digunakan untuk memberi label kepada manusia yang hidup sekarang hanya berdasarkan tampilan wajah atau tanda tertentu.
Dalam ajaran Islam, menunjuk seseorang sebagai Dajjal tanpa dasar tidak mempunyai pijakan yang kuat. Hadis menggambarkan kemunculannya sebagai sebuah peristiwa besar dengan rangkaian tanda yang jauh lebih lengkap daripada satu karakter fisik.
Dajjal Digambarkan Berusia Muda dan Berambut Tebal
Hadis juga memberikan gambaran mengenai usia serta rambut Dajjal. Dalam penjelasan hadis yang dimuat NU Online, Rasulullah SAW menggambarkannya sebagai seorang laki laki muda dengan rambut tebal.
Riwayat lain menyebut rambutnya keriting. Gambaran tersebut muncul bersama penjelasan mengenai tubuh dan matanya sehingga umat Muslim memperoleh ciri yang lebih lengkap.
Ciri rambut tentu tidak dapat digunakan sendirian untuk menentukan identitas Dajjal. Jutaan manusia mempunyai rambut keriting dan karakter wajah yang beragam. Hadis perlu dipahami sebagai satu kesatuan, bukan dipotong menjadi ciri tunggal kemudian digunakan untuk menuduh seseorang.
Hal ini menjadi semakin penting di era media sosial. Foto tokoh publik sering diubah, disunting atau dipadukan dengan teori tertentu sehingga kemudian diklaim sebagai bukti keberadaan Dajjal. Cara seperti itu tidak sejalan dengan kehati hatian ketika membicarakan perkara gaib.
Sifat Utama Dajjal Adalah Pendusta Besar
Kata Dajjal sangat dekat dengan sifat dusta. Muhammadiyah menjelaskan bahwa istilah tersebut berkaitan dengan pengertian pendusta atau pemalsu. Sebutan Al Masih Ad Dajjal kemudian digunakan untuk membedakannya dari Al Masih Isa bin Maryam.
Kebohongan terbesar Dajjal bukan sekadar menyampaikan informasi palsu. Dalam hadis, ia digambarkan membuat klaim yang semakin besar hingga akhirnya mengaku memiliki kedudukan ketuhanan.
Rasulullah telah menutup pintu kebingungan tersebut dengan menegaskan bahwa Allah tidak memiliki cacat seperti Dajjal. Prinsip tauhid menjadi perlindungan utama karena seorang Muslim mengetahui bahwa pencipta alam tidak dapat disamakan dengan manusia yang mempunyai bentuk tubuh, keterbatasan serta kekurangan.
Dari sini terlihat bahwa bahaya terbesar Dajjal bukan hanya penampilannya, melainkan kemampuan menyesatkan keyakinan manusia.
Dajjal Membawa Ujian yang Sangat Sulit Dipahami Manusia
Dajjal tidak digambarkan datang hanya dengan pidato atau ajakan. Hadis menerangkan adanya berbagai kejadian luar biasa yang menjadi ujian bagi manusia.
Riwayat Sahih Muslim yang dijelaskan NU Online menyebut Dajjal membawa sesuatu yang tampak seperti air dan api. Apa yang terlihat manusia sebagai sesuatu yang menyelamatkan justru digambarkan berbeda dari keadaan sebenarnya.
Gambaran tersebut memperlihatkan mengapa fitnah Dajjal disebut sangat berat. Manusia bukan hanya diuji melalui kata kata, tetapi juga melalui sesuatu yang tampak meyakinkan di depan mata.
Dalam riwayat lain, Dajjal mendatangi suatu kaum kemudian mereka mempercayainya. Setelah itu muncul berbagai keadaan yang membuat kehidupan kelompok tersebut terlihat berlimpah. Sebaliknya, kelompok yang menolak ajakannya mengalami kesulitan.
Ujian semacam ini menempatkan iman seseorang dalam tekanan yang luar biasa. Orang dapat tergoda bukan karena tidak mengetahui ajaran agama, tetapi karena melihat keuntungan dan kerugian secara langsung.
Dajjal Dikisahkan Mampu Memperdaya dengan Kehidupan dan Kematian
Salah satu hadis Sahih Bukhari menggambarkan pertemuan Dajjal dengan seorang laki laki beriman di sekitar Madinah. Dajjal membunuh orang tersebut kemudian membuatnya kembali hidup dengan izin Allah sebagai bagian dari ujian.
Menariknya, laki laki itu justru semakin yakin bahwa orang di hadapannya adalah Dajjal yang telah diperingatkan Rasulullah. Dajjal kemudian hendak membunuhnya kembali tetapi tidak mampu melakukannya.
Hadis tersebut menunjukkan bahwa kejadian luar biasa tidak otomatis membuktikan seseorang mempunyai sifat ketuhanan. Dalam ajaran Islam, seluruh kejadian tetap berada di bawah kehendak Allah.
Karena itu, ukuran iman bukan hanya kemampuan melihat sesuatu yang mengagumkan. Seorang Muslim juga dituntut memahami siapa Allah serta membedakan kekuasaan Sang Pencipta dari kemampuan yang diberikan sementara kepada makhluk sebagai ujian.
Lama Keberadaan Dajjal Disebut Empat Puluh Hari
Salah satu riwayat paling rinci mengenai Dajjal terdapat dalam Sahih Muslim. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Dajjal berada di bumi selama empat puluh hari.
Namun, panjang hari tersebut tidak semuanya sama. Satu hari digambarkan seperti satu tahun, satu hari seperti satu bulan, satu hari seperti satu pekan, sedangkan hari berikutnya berjalan sebagaimana hari biasa. Para sahabat bahkan bertanya bagaimana menentukan waktu salat pada hari yang terasa seperti setahun. Rasulullah memerintahkan mereka memperkirakan waktunya.
Penjelasan tersebut menunjukkan betapa tidak biasanya periode kemunculan Dajjal sebagaimana diterangkan dalam hadis.
Muslim tidak diperintahkan menghitung tanggal kemunculannya dari kalender sekarang. Tidak ada hadis sahih yang memberikan tanggal tertentu sehingga berbagai klaim yang menetapkan tahun pasti kemunculan Dajjal perlu disikapi dengan sangat hati hati.
Dajjal Tidak Dapat Memasuki Makkah dan Madinah
Walaupun Dajjal digambarkan bergerak luas, terdapat dua kota yang mempunyai perlindungan khusus, yaitu Makkah dan Madinah.
Sahih Bukhari menyebut Dajjal tidak dapat memasuki kedua kota tersebut. Jalan masuk menuju Makkah dan Madinah dijaga para malaikat.
Khusus Madinah, riwayat juga menjelaskan kota tersebut akan mengalami guncangan sehingga orang kafir dan munafik keluar darinya. Dajjal berada di wilayah luar kota tetapi tidak berhasil masuk.
Keterangan ini kembali memperlihatkan bahwa ciri Dajjal bukan hanya perkara wajah. Perjalanan dan batas wilayah yang dapat dimasukinya ikut menjadi bagian dari rangkaian informasi yang diberikan Nabi.
Kemunculan Dajjal Dikaitkan dengan Arah Timur
Riwayat mengenai lokasi kemunculan Dajjal memiliki beberapa rincian. Sahih Muslim melalui hadis panjang Fatimah binti Qais menyebut Nabi menunjuk ke arah timur ketika menjelaskan keberadaannya.
Riwayat lain yang dijelaskan NU Online menyebut kawasan antara Syam dan Irak sebagai wilayah yang berkaitan dengan kemunculan serta perjalanan Dajjal.
Perbedaan rincian tersebut telah menjadi bahan pembahasan para ulama dalam menggabungkan berbagai riwayat. Hal yang perlu dihindari adalah mengubah nama wilayah dalam hadis menjadi tuduhan terhadap negara atau masyarakat tertentu yang hidup sekarang.
Muhammadiyah pada 2026 juga mengingatkan masyarakat agar tidak tergesa menghubungkan konflik politik modern dengan kemunculan Imam Mahdi atau rangkaian hari kiamat tanpa landasan dalil yang kuat.
Nabi Isa Akan Mengakhiri Perjalanan Dajjal
Kisah Dajjal dalam hadis berkaitan erat dengan turunnya Nabi Isa bin Maryam AS. Dalam Sahih Muslim, Nabi Isa digambarkan turun kemudian mengejar Dajjal.
Perjalanan tersebut berakhir di gerbang Ludd. Di tempat itulah Dajjal akhirnya dibunuh oleh Nabi Isa.
Riwayat mengenai turunnya Nabi Isa dan berakhirnya Dajjal menjadi bagian penting dalam pembahasan tanda besar hari kiamat. Dengan demikian, Dajjal bukan sosok yang terus berkuasa tanpa akhir sebagaimana kadang digambarkan dalam cerita populer.
Keberadaannya mempunyai awal dan akhir. Seluruh kemampuan yang membuat manusia terpesona juga tidak mengubah kedudukannya sebagai makhluk.
Surat Al Kahfi Menjadi Perlindungan dari Fitnah Dajjal
Nabi Muhammad SAW tidak hanya menjelaskan ciri Dajjal. Umat juga diberikan tuntunan untuk melindungi diri dari ujian tersebut.
Sahih Muslim meriwayatkan bahwa orang yang menghafal sepuluh ayat pertama Surat Al Kahfi memperoleh perlindungan dari Dajjal. Terdapat pula riwayat yang menyebut sepuluh ayat bagian akhir Surat Al Kahfi.
Hubungan Surat Al Kahfi dengan perlindungan dari Dajjal menunjukkan pentingnya memperkuat iman sebelum menghadapi ujian. Surat tersebut berisi berbagai kisah mengenai keimanan, kekayaan, ilmu dan kekuasaan yang semuanya dapat menjadi ujian bagi manusia.
Menghafal ayat tidak semestinya dipisahkan dari memahami ajaran yang dikandungnya. Seorang Muslim juga perlu menjaga tauhid, meningkatkan pengetahuan agama dan tidak mudah terpukau oleh sesuatu hanya karena terlihat luar biasa.
Menurut penulis, pembahasan Dajjal seharusnya membawa umat pada penguatan iman, bukan ketakutan berlebihan atau kebiasaan mencari ciri Dajjal pada setiap tokoh yang sedang ramai dibicarakan.
Doa Perlindungan dari Dajjal Dianjurkan dalam Salat
Perlindungan lain yang diajarkan Rasulullah adalah doa setelah tasyahud dalam salat. Sahih Muslim mencatat Nabi memerintahkan umatnya meminta perlindungan kepada Allah dari empat perkara, termasuk keburukan fitnah Al Masih Ad Dajjal.
Doa tersebut berisi permohonan perlindungan dari azab neraka, azab kubur, ujian kehidupan dan kematian serta fitnah Dajjal. Riwayat lain menyebut Rasulullah sendiri biasa memohon perlindungan dari Dajjal dalam salat.
Kebiasaan ini menunjukkan bahwa pembahasan Dajjal bukan ditujukan untuk sekadar memuaskan rasa penasaran tentang hari kiamat. Ada tindakan ibadah yang diajarkan secara langsung sebagai respons seorang Muslim terhadap kabar tersebut.
Tidak Semua Pendusta Bisa Langsung Disebut Dajjal Akhir Zaman
Istilah Dajjal kadang digunakan secara longgar untuk menggambarkan pembohong besar. Dalam hadis memang terdapat kabar mengenai munculnya banyak pendusta sebelum Dajjal besar.
Namun, keberadaan pendusta tersebut tidak berarti setiap penipu, pemimpin zalim atau orang yang mengaku memiliki kemampuan tertentu otomatis merupakan Al Masih Ad Dajjal yang dijelaskan dalam hadis.
Dajjal akhir zaman memiliki rangkaian ciri yang sangat spesifik. Ia mempunyai keadaan fisik tertentu, membawa ujian luar biasa, bergerak luas, tidak dapat memasuki Makkah dan Madinah serta akhirnya dibunuh Nabi Isa di wilayah Ludd.
Karena itu, penggunaan istilah Dajjal kepada individu tertentu sebaiknya tidak dilakukan sembarangan. Perkara gaib tidak dapat dibuktikan melalui potongan video, kemiripan wajah atau teori internet.
Ciri Dajjal Perlu Dipelajari Bersama Prinsip Tauhid
Rasulullah memberikan gambaran Dajjal dengan cukup terperinci, tetapi tujuan terpenting dari semua keterangan tersebut adalah menjaga keimanan.
Ciri matanya, tulisan kafir, kebohongan, kemampuan memperdaya manusia, perjalanan selama empat puluh hari, larangan masuk Makkah dan Madinah hingga pertemuannya dengan Nabi Isa membentuk satu rangkaian yang saling berhubungan.
Seseorang tidak cukup hanya menghafal bahwa Dajjal bermata satu apabila keyakinannya kepada Allah tidak kuat. Nabi justru berulang kali menghubungkan ciri Dajjal dengan prinsip bahwa Allah berbeda dari makhluk dan tidak mempunyai kekurangan.
Itulah sebabnya tuntunan Nabi juga diarahkan kepada ibadah. Sepuluh ayat Surat Al Kahfi dianjurkan sebagai perlindungan, sementara doa meminta perlindungan dari fitnah Dajjal diajarkan dalam salat.
Pembahasan ciri Dajjal dalam Islam dengan demikian tidak berhenti pada rupa seorang laki laki bermata cacat. Hadis menggambarkannya sebagai pendusta besar yang membawa ujian keimanan, sementara Muslim diperintahkan menjaga tauhid, memperkuat ilmu agama, memohon perlindungan kepada Allah dan tidak mendekati ujian tersebut dengan rasa percaya diri yang berlebihan.




Comment