Menjelang hari raya, suasana euforia sering kali membuat kita lengah mengelola keuangan. Tanpa disadari, ada sederet kebiasaan buruk menjelang lebaran yang berulang setiap tahun dan membuat dompet tiba tiba jebol. Tunjangan hari raya, gaji ke 13, hingga bonus tahunan seakan menguap begitu saja hanya dalam hitungan hari. Yang lebih berbahaya, kebiasaan ini kerap dianggap โwajarโ karena terjadi hampir di semua keluarga.
Belanja Berlebihan di Pusat Perbelanjaan Menjelang Lebaran
Pusat perbelanjaan menjadi magnet kuat setiap kali mendekati hari raya. Diskon besar besaran, promo beli satu gratis satu, hingga cashback menggiurkan membuat banyak orang tergoda menghabiskan uang tanpa perhitungan. Inilah salah satu kebiasaan buruk menjelang lebaran yang paling sulit dikendalikan, terutama bagi mereka yang baru menerima THR.
Di momen ini, banyak orang datang ke mal hanya untuk โlihat lihatโ tetapi pulang membawa beberapa kantong belanja. Fenomena ini diperparah oleh penataan etalase yang sengaja dibuat menarik, lampu terang, musik ceria, dan papan diskon besar yang menggiring konsumen untuk merasa โsayang kalau tidak beli sekarangโ. Padahal, tidak semua barang yang dibeli benar benar dibutuhkan.
Belanja pakaian baru, sepatu, tas, dan aksesori sebenarnya sah sah saja. Yang menjadi masalah adalah ketika belanja dilakukan tanpa batas. Misalnya membeli tiga pasang sepatu padahal yang dipakai hanya satu, atau membeli beberapa baju baru hanya demi foto di media sosial. Di titik ini, belanja sudah bergeser dari kebutuhan menjadi pemuasan keinginan sesaat.
Lupa Membuat Anggaran, THR Habis Sebelum Lebaran Usai
Kebiasaan lain yang tak kalah berbahaya adalah tidak membuat anggaran khusus untuk pengeluaran hari raya. Tanpa perencanaan, uang THR dan gaji akan mengalir ke berbagai pos tanpa kontrol. Inilah kebiasaan buruk menjelang lebaran yang membuat banyak orang menyesal setelah hari raya berlalu.
Banyak pekerja menganggap THR sebagai โuang ekstraโ yang boleh dihabiskan sesuka hati. Padahal, secara fungsi, THR idealnya digunakan untuk kebutuhan spesifik seperti zakat, kebutuhan pokok lebaran, mudik, dan sedikit untuk tabungan. Tanpa pembagian yang jelas, pengeluaran untuk hal hal konsumtif akan menggerus porsi untuk kebutuhan penting.
Contohnya, seseorang yang langsung membelanjakan THR untuk gawai baru atau perabot rumah tanpa menghitung dulu biaya mudik, zakat, dan keperluan dapur. Akibatnya, ketika mendekati hari H, ia baru sadar bahwa uang tidak cukup untuk biaya perjalanan atau kebutuhan keluarga di kampung halaman. Kondisi ini sering berujung pada pinjaman mendadak, baik ke keluarga, teman, atau bahkan pinjaman online.
โTHR bukan hadiah untuk dihabiskan, melainkan alat untuk mengelola kewajiban dan kebutuhan lebaran dengan lebih tenang.โ
Kebiasaan Buruk Menjelang Lebaran: Cuci Gudang di Marketplace
Jika dulu pusat perbelanjaan fisik menjadi sumber godaan utama, kini marketplace dan aplikasi belanja online mengambil peran besar. Flash sale tengah malam, diskon spesial menjelang lebaran, hingga gratis ongkir tanpa batas membuat banyak orang lupa diri. Kebiasaan buruk menjelang lebaran ini semakin parah karena proses belanja hanya butuh beberapa ketukan jari.
Belanja online menghadirkan ilusi bahwa semua barang terasa lebih murah dan mudah dijangkau. Padahal, sering kali konsumen tidak benar benar membutuhkan barang yang dibeli. Fitur keranjang belanja dan wishlist membuat orang menumpuk barang yang diincar, lalu menunggu momen diskon besar. Ketika promo lebaran tiba, semua barang itu langsung diborong sekaligus.
Masalah lain adalah kurangnya rasa โsakitโ saat mengeluarkan uang. Dengan pembayaran digital, e wallet, atau paylater, konsumen tidak melihat uang fisik berpindah tangan. Hal ini membuat pengeluaran terasa ringan, padahal nominalnya sangat besar jika diakumulasikan. Tak jarang, setelah lebaran, barulah tagihan paylater dan kartu kredit muncul dan menimbulkan stres baru.
Tradisi Memberi Amplop Berlebihan di Luar Kemampuan
Memberi amplop kepada keponakan, saudara, atau anak tetangga saat lebaran merupakan tradisi yang sudah mengakar. Namun, tradisi ini sering berubah menjadi beban ketika dilakukan di luar kemampuan finansial. Inilah salah satu kebiasaan buruk menjelang lebaran yang jarang dibicarakan, karena banyak orang merasa sungkan mengakuinya.
Keinginan untuk terlihat โroyalโ di depan keluarga besar membuat sebagian orang memaksakan diri menyiapkan amplop dengan nominal yang cukup besar. Apalagi jika ada budaya membanding bandingkan, misalnya โsi A kasih segini, si B lebih besarโ. Situasi ini mendorong persaingan tak sehat dan membuat orang mengeluarkan uang lebih banyak demi gengsi.
Padahal, esensi memberi amplop bukan pada jumlah uang, melainkan pada kebersamaan dan niat berbagi. Jika kondisi keuangan terbatas, tidak ada salahnya mengurangi nominal atau jumlah penerima amplop. Masalah muncul ketika seseorang tetap memaksakan nominal tinggi, lalu menutup kekurangan dengan berutang atau mengorbankan kebutuhan penting lain.
Gaya Hidup Pamer di Media Sosial Menjelang Hari Raya
Media sosial menjelang lebaran sering dipenuhi unggahan belanja besar besaran, foto hampers mewah, hingga perjalanan mudik dengan kendaraan baru. Fenomena ini ikut menyuburkan kebiasaan buruk menjelang lebaran, yaitu gaya hidup pamer yang mendorong orang berbelanja demi citra, bukan demi kebutuhan.
Rasa ingin terlihat โtidak kalahโ dengan teman atau kerabat di dunia maya membuat sebagian orang mengambil keputusan finansial yang tidak rasional. Misalnya membeli pakaian bermerek, memesan hampers mahal, atau menyewa mobil mewah hanya untuk keperluan foto dan unggahan singkat. Setelah momen itu lewat, yang tersisa justru tagihan dan saldo rekening yang menipis.
Tekanan sosial yang tercipta dari media sosial sering tidak terasa langsung, tetapi bekerja secara halus. Melihat unggahan orang lain berulang kali, tanpa sadar kita membuat standar baru tentang apa yang dianggap โnormalโ saat lebaran. Akhirnya, keinginan untuk mengikuti standar itu mendorong pengeluaran yang sebenarnya tidak perlu.
โJika lebaran diukur dari seberapa mewah unggahan di media sosial, maka yang menang adalah industri konsumsi, bukan kebahagiaan keluarga.โ
Kebiasaan Buruk Menjelang Lebaran: Lupa Melunasi Utang Sebelum Belanja
Bagi sebagian orang, lebaran justru menjadi momen paling berat karena harus berhadapan dengan kewajiban finansial yang tertunda. Kebiasaan buruk menjelang lebaran yang sering terjadi adalah mendahulukan belanja konsumtif dibanding melunasi utang. Padahal, THR dan bonus seharusnya bisa menjadi kesempatan untuk merapikan kondisi keuangan.
Banyak kasus di mana seseorang memiliki cicilan menumpuk, pinjaman online, atau utang ke keluarga, tetapi memilih menggunakan sebagian besar THR untuk belanja pakaian, gadget, atau renovasi kecil kecilan. Utang baru dipikirkan setelah semua kebutuhan lebaran terpenuhi. Akibatnya, beban bunga dan denda terus berjalan dan menambah beban di bulan bulan berikutnya.
Sikap menghindar dari utang ini sering dipicu oleh rasa malu atau tidak nyaman. Namun, justru dengan mengabaikan kewajiban, kondisi keuangan menjadi semakin tidak sehat. Sebaliknya, ketika utang diprioritaskan, lebaran mungkin terasa lebih sederhana, tetapi memberikan ketenangan jangka panjang. Sayangnya, pilihan rasional ini sering dikalahkan oleh tekanan sosial dan keinginan sesaat.
Tradisi Mudik Tanpa Perhitungan Biaya yang Matang
Mudik adalah salah satu tradisi paling dinanti banyak perantau. Namun, mudik juga termasuk kebiasaan buruk menjelang lebaran jika dilakukan tanpa perhitungan biaya yang matang. Tiket transportasi, bahan bakar, tol, makan di perjalanan, dan oleh oleh bisa menghabiskan porsi besar dari anggaran lebaran.
Banyak keluarga memutuskan mudik mendekati hari H, ketika harga tiket sudah melonjak. Akibatnya, mereka harus membayar jauh lebih mahal dibanding jika merencanakan dari jauh hari. Selain itu, keinginan untuk membawa oleh oleh berlebihan bagi keluarga di kampung halaman sering menambah beban pengeluaran.
Ada juga yang memilih menyewa mobil atau bahkan membeli kendaraan baru menjelang lebaran demi kenyamanan mudik. Tanpa perhitungan yang jelas, keputusan ini bisa mengganggu keuangan setelah hari raya. Biaya cicilan, perawatan, dan bahan bakar menjadi beban tambahan yang tidak selalu sebanding dengan manfaat yang diperoleh.
Kebiasaan Buruk Menjelang Lebaran: Boros di Dapur dan Menu Makanan
Menjelang lebaran, dapur menjadi pusat aktivitas utama. Banyak keluarga berbelanja bahan makanan dalam jumlah besar untuk memasak hidangan khas seperti opor, rendang, ketupat, dan kue kue kering. Namun, kebiasaan buruk menjelang lebaran muncul ketika belanja bahan makanan dilakukan secara berlebihan tanpa perencanaan menu yang jelas.
Belanja di pasar atau supermarket saat ramai sering membuat orang panik membeli. Takut kehabisan atau merasa harus menyediakan banyak pilihan untuk tamu membuat keranjang belanja penuh dalam waktu singkat. Padahal, tidak semua makanan tersebut akan habis dikonsumsi. Sisa makanan sering berakhir terbuang karena basi atau tidak sempat dihabiskan.
Selain pemborosan uang, kebiasaan ini juga menimbulkan pemborosan makanan. Padahal, harga bahan pokok cenderung naik menjelang hari raya. Jika belanja dilakukan dengan lebih terencana, misalnya dengan membuat daftar menu dan porsi yang realistis, pengeluaran bisa ditekan tanpa mengurangi kebersamaan di meja makan.
Mengabaikan Tabungan dan Dana Darurat demi Lebaran Meriah
Satu lagi kebiasaan buruk menjelang lebaran yang jarang disadari adalah mengorbankan tabungan dan dana darurat demi menciptakan suasana lebaran yang dianggap โsempurnaโ. Banyak orang rela menguras tabungan yang telah dikumpulkan berbulan bulan bahkan bertahun tahun, hanya untuk memenuhi standar perayaan yang tinggi dalam waktu singkat.
Dana darurat yang seharusnya menjadi penyangga ketika terjadi hal tak terduga, seperti sakit, kehilangan pekerjaan, atau kebutuhan mendesak lain, justru disentuh menjelang hari raya. Alasan yang sering muncul adalah โmumpung ada momen spesialโ atau โnanti bisa ditabung lagiโ. Namun, kenyataannya, mengembalikan dana darurat tidak semudah menghabiskannya.
Akibatnya, setelah lebaran, banyak keluarga yang kembali ke titik nol secara finansial, bahkan lebih buruk karena harus menghadapi tagihan. Ketika ada kejadian tak terduga beberapa bulan kemudian, mereka tidak lagi memiliki bantalan keuangan. Situasi ini membuat siklus ketergantungan pada utang dan pinjaman berulang dari tahun ke tahun.
Mengelola keuangan menjelang hari raya memang tidak mudah, terutama ketika tradisi, ekspektasi keluarga, dan godaan konsumsi datang bersamaan. Namun, menyadari dan mengakui adanya kebiasaan kebiasaan yang merugikan adalah langkah awal untuk memperbaiki pola tersebut di tahun tahun berikutnya.




Comment